Testimonials

Izin penyelenggaraan Ma’had Aly hanya pada satu fokus studi saja, dengan tujuan Ma’had Aly tersebut dapat fokus pada satu bidang kajian tertentu. Selanjutnya Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, membacakan nama-nama 13 Ma’had Aly yang diresmikan, antara lain;

1) Ma’had Aly Saidusshiddiqiyyah, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Kebon Jeruk (DKI Jakarta)dengan program takhasus (spesialisasi) “Sejarah dan Peradaban Islam” (Tarikh Islami wa Tsaqafatuhu);

2) Ma’had Aly Syekh Ibrahim Al Jambi, Pondok Pesantren Al As’ad Kota Jambi (Jambi), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

3) Ma’had Aly Sumatera Thawalib Parabek, Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Agam (Sumatera Barat), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

4) Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya, Pondok PesantrenMa’hadul ‘Ulum Ad Diniyyah Al Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya, Bireun (Aceh), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

5) Ma’had Aly As’adiyah, Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang (Sulsel), dengan program takhasus “Tafsir dan Ilmu Tafsir” (Tafsir wa Ulumuhu);

6) Ma’had Aly Rasyidiyah Khalidiyah, Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai (Kalsel), dengan program takhasus “Aqidah dan Filsafat Islam” (Aqidah wa Falsafatuhu);

7) Ma’had Aly salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo (Jatim), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

8) Ma’had Aly Hasyim Al-Asy’ari, Pondok PesantrenTebuireng Jombang (Jatim), dengan program takhasus “Hadits dan Ilmu Hadits” (Hadits wa Ulumuhu);

9) Ma’had Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas (Jatim), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

10) Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh, Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati (Jateng), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

11) Ma’had Aly PP Iqna ath-Thalibin, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang (Jateng),dengan program takhasus “Tasawwuf dan Tarekat” (Tashawwuf wa Thariqatuhu);

12) Ma’had Aly Al Hikamussalafiyah, Pondok Pesantren Madrasah Hikamussalafiyah (MHS)Cirebon (Jabar), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu); dan

13) Ma’had Aly Miftahul Huda, Pondok PesantrenManonjaya Ciamis (Jabar), dengan program takhasus “Aqidah dan FIlsafat Islam” (Aqidah wa Falsafatuhu).

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI

“Kita punya obsesi, nanti 5 tahun ke depan Ma’had ‘Aly menjadi destinasi pendidikan dunia. Dan ini insya Allah real. Cita-cita yang memang realistis,” tegas Dr. Zayadi. Beliau bercerita, seminggu kemarin banyak sekali mufti dari berbagai negara yang tujuan awalnya adalah ziarah ke almarhum KH. Hasyim Muzadi, tetapi selepas itu mereka mampir ke kantor Direktorat Jendral Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.

Ada mufti dari Darul Fatwa Sidney, Damaskus, Jamiyah Alawiyah Lebanon, Tripoli, Kelantan dan dari beberapa negera lain, memenuhi kantor Dr. Zayadi. “Di kesempatan itu karena kebetulan di forum itu juga kita sedang ada diskusi dengan kawan-kawan muadalah. Maka kemudian kita cerita banyak tentang muadalah dan Ma’had ‘Aly yang baru saja negara hadir melegalisasi beberapa entitas kelembagaan yang baru itu,” tutur beliau.

Dari pembicaraan bersama para mufti dari berbagai negara, Dr. Zayadi mengungkapkan bahwa mereka mencermati ternyata hanya di Indonesia, tradisi pesantren yang begitu agung itu bukan hanya semata mata diakui oleh umat Islam saja.  Negara juga negara memastikan dirinya hadir memfasilitasi, melegalisasi, dan tentu saja bertanggung jawab atas masa depan kelembagaan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan ini dari mulai jenjang tingkat Ula, Wustho, Ulya hingga Ma’had ‘Aly.

“Ini ada jaminannya, jaminannya adalah PMA (Peratuan Menteri Agama) dan kebijakan negara yang lainnya,” kata beliau sambil menggebu-gebu

“Ketika kemudian kita berbicara Ma’had Aly, kita bangga karena Ma’had ‘Aly adalah lembaga pendidikan paling autentik yang dimiliki bangsa ini. Berbeda dengan sekolah, bangsa ini tidak kenal sekolah awalnya, begitu pula madrasah. Itu sistem terbaru,” tambah Dr. Zayadi.

“Oleh karena itu ketika kita misalnya melihat catatan Cak Nur, dalam “Bilik-Bilik Pesantren”. Itu secara jujur diakui jika bangsa ini tidak pernah dijajah, maka bangsa ini tidak akan pernah kenal UGM, tidak akan kenal ITB, tidak akan kenal universitas, tetapi yang akan dikenali bangsa ini adalah Ma’had ‘Aly,” ungkap Dr. Zayadi.

Bagi beliau, alasan mengapa Ma’had ‘Aly (pesantren) merupakan lembaga paling autentik Indonesia adalah datangnya penjajahan itu sekaligus membawa sistem yang mereka anut, yaitu sistem sekolah, sistem universitas, dan sistem Institut, sedangkan yang paling asli milik Indonesia adalah pesantren.

Beliau mengutip pernyataan Kiai Masdar Farid Mas’udi yang membagi tiga kategori kiai. Pertama kiai mursyid, yakni kiai kampung yang dalam kesehariannya tidak ada jarak dengan masyarakat, memberikan pendampingan-pendampingan dan waktunya kepada masyarakat sekitar untuk konsultasi. Kiai ini dibutuhkan dalam jumlah yang besar karena kenyataannya umat Islam Indonesia berjumlah lebih dari 160 juta.

Kedua kiai muballigh, kiai komunikator, yakni kiai yang bisa mengkomunikasikan pesan-pesan keagamaan dalam kontek sosial kemasyarakatan. Sehingga kemudian pencitraan umat bisa dilakukan dan dikembangkan oleh kiai muballigh. “Tidak semua harus menjadi muballig,” ungkap beliau.

Ketiga adalah kiai yang paling sedikit, yakni kiai mutafaqqih, kiai pemikir. Kiai-kiai tipe ini lah yang diyakini Dr. Zayadi akan lahir dari Ma’had ‘Aly. “Itu akan menjadi kaum elite. Dari sisi kapasitas akademik yang akan dihasilkan tamatan Ma’had ‘Aly. Mereka memiliki kompetensi kemursyidan, kemubalighan dan yang terakhir mempunyai kompetensi untuk bisa mewarnai ke mana arah bangsa ini dikendalikan,” pungkas Dr. Zayadi.

Dr. H. Ahmad Zayadi, Kepala Subdirektorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had ‘Aly, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

“Rasa syukur itu (atas pengukuhan 13 Ma’had Aly melalui Peraturan Menteri Agama) harus kita wujudkan dalam bentuk meneruskan kerjasama antar Ma’had Aly yang selama ini bertahun-tahun telah kita lakukan dalam forum bersama membahas masa depan Ma’had Aly sampai keluarnya pengukuhan dari Menteri Agama,” tutur Gus Sholah. Beliau berharap di masa yang datang Ma’had Aly akan terus berkembang dan bertambah.

Menurut beliau Ma’had Aly adalah penerus tradisi akademik pesantren. Kebanyakan orang melihat pesantren, lanjut beliau, lebih memperhatikan tradisi mengajinya, jarang yang memperhatikan sisi akademiknya. Tradisi pesantren meliputri tradisi mengaji yang bertumpu pada hafalan, sedangkan tradisi akademiknya meliputi tradisi muthola’ah dan bahtsul masail. Bahkan, Ma’had Aly nantinya akan memperbaiki sistem akademik pesantren yang masih belum terstruktur.

Pada akhir sambutan, beliau mengucapkan terima kasih kepada Menteri  Agama beserta jajarannya yang telah berhasil membawa Ma’had Aly dalam struktur pendidikan formal berbasis pesantren yang telah diakui negara. “Mudah-mudahan ini bisa betul-betul berhasil dan bermanfaat bagi kita semua,” kata beliau sebelum mengakhiri sambutan.

Dr. (Hc), Ir. KH. Salahuddin Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng