Pesantren dan Nasionalisme

Oleh: Dr. H. Ahmad Syakur, Lc. M.Ei.*

Islam dan Nasionalisme

Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan dan wilayah, serta kesamaan cita-cita dan tujuan. Dengan demikian, masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri.

Nasionalisme pada mulanya adalah paham yang muncul di Barat (Eropa) pada abad pertengahan. Paham ini dipelopori oleh gerakan Reformasi Protestan Martin Luther di Jerman dalam menentang Gereja Katolik Roma, yang pada saat itu menjadi penguasa. Hegemoni gereja di Eropa yang menguasai seluruh sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, menurut para reformis, merupakan sebab kemunduran Eropa. Gerakan reformasi ini kemudian melahirkan revolusi Perancis yang merupakan tonggak kemajuan Eropa. Revolusi Perancis melahirkan nation-state, negara berbasis bangsa, sebagai implementasi paham nasionalisme. Paham nasionalisme ini berkaitan erat dengan paham sekulerisme, yaitu paham yang memisahkan urusan agama dan urusan dunia. Negara-bangsa sebagai hasil dari revolusi Perancis, disamping berdasar pada nasionalisme juga berdasar pada sekulerisme. Bisa dikatakan bahwa revolusi Perancis adalah revolusi melawan gereja, sehingga berakibat pada pengurungan gereja (agama) hanya dalam batas relasi ketuhanan saja. Dalam perkembangannya, nasionalisme di Eropa melahirkan persaingan dan fanatisme kebangsaan antara bangsa-bangsa Eropa dan melahirkan banyak negara-bangsa yang berskala kecil.

Fakta bahwa nasionalisme berasal dari Barat di atas, menyebabkan dunia Islam gamang dalam mengambil paham tersebut. Sebagian tokoh, seperti al-Nabhani dengan Hizbut Tahrirnya, mengatakan bahwa haram bagi muslim untuk menerima dan menerapkan nasionalisme. Menurutnya, nasionalisme menjadikan umat Islam terpecah ke dalam banyak negara yang masing-masing masyarakatnya fanatik terhadap negaranya sendiri-sendiri, hal itu tidak jarang berujung pada permusuhan antara sesama muslim.  Namun mayoritas umat Islam bersikap moderat, yaitu menerima nasionalisme selama dipergunakan sejalan dengan ajaran Islam. Hasan al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir mengatakan bahwa nasionalisme adalah bagian dari Islam. Al-Banna mengatakan bahwa jika yang dimaksud dengan nasionalisme adalah cinta tanah air, membebaskan Negara dari imperialisme asing dan persaudaraan dengan sesama masyarakat sebangsa setanah air, maka kami adalah nasionalis sejati.[1]

Terlepas dari diskursus di atas, inti nasionalisme yang berupa cinta tanah air dan berjuang membela kepentingan bangsa dan negara, sebenarnya telah ada pada diri para Rasul Allah SWT. Nabi Ibrahim AS misalnya, beliau selalu berdoa untuk kemakmuran, keamanan dan keberkahan negeri yang didiami (lihat: QS: al-Baqarah (2): 126; Ibrahim (14): 35). Nabi Musa AS juga memperjuangkan nasib bangsa Israel yang ditindas oleh Fir’aun dan memperjuangkan bangsanya untuk kembali ke tanah air mereka (Palestina). Begitu juga dengan Rasulullah Muhammad SAW, beliau sangat mencintai Mekah. diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa saat Nabi diusir dari Mekah beliau berkata: “Sungguh aku diusir darimu (Mekah), sungguh aku tahu bahwa engkau adalah wilayah yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Andai pendudukmu tidak mengusirku darimu, maka aku takkan meninggalkanmu”. (Musnad al-Haris, oleh al-Hafidz al-Haitsami 1/460).  Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau berdoa: “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Mekah atau melebihi” (HR. Bukhari 7/161).

Dengan berbagai fakta di atas, sebenarnya kelompok anti nasionalisme merupakan minoritas dalam diri  umat Islam. Apalagi penolakan tersebut berdasar fakta bahwa paham itulah yang menjadi sebab keruntuhan kekuatan politik umat Islam yang diwakili oleh kekhalifahan Turki Usmani. Namun, pihak-pihak luar menjadikan diskursus ini sebagai legitimasi untuk memarjinalkan peran umat Islam secara umum dan pesantren secara khusus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kasus Indonesia, stigma bahwa umat Islam tidak nasionalis tersirat dalam berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah atau wacana yang berkembang dalam dunia politik pemerintahan. Fragmentasi antara kaum nasionalis dan kaum Islamis dalam madzhab politik Indonesia jelas mengarah kepada dikotomi antara Islam dan nasionalisme. Begitu juga kebijakan pemerintah orde baru dalam penyederhanaan partai politik pada tahun 1973 secara jelas menyiratkan hal itu, di mana partai-partai berbasis Islam dikumpulkan menjadi satu dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dikenal sebagai partai Islam, sedang PNI, PARKINDO (Partai Kristen Indonesia), Partai Katolik dan MURBA dikumpulkan dalam Partai demokrasi Indonesia (PDI) dan dikelompokkan sebagai kaum nasionalis. Pengelompokan ini jelas menyiratkan bahwa partai Islam tidak memperjuangkan nasionalisme, berbeda dengan partai Kristen dan katolik.

Pesantren dan Nasionalisme di Indonesia

Sejarah pesantren di Indonesia menunjukkan usia yang panjang, lebih dari 600 tahun.[2] Walaupun mayoritas penulis mengatakan bahwa pesantren adalah suatu sistem pendidikan yang berasal dari luar Indonesia, namun usianya yang panjang ini sudah cukup menjadi alasan untuk menyatakan bahwa pesantren telah menjadi milik budaya bangsa Indonesia.[3] Sebagai bagian tidak terpisah dari bangsa Indonesia, pesantren kaya akan sejarah nasionalisme dan perjuangan membela tanah air. Suka atau tidak, kemerdekaan yang sudah kita reguk selama 71 tahun ini tidaklah lepas dari peran pesantren. Banyak sekali kisah sejarah yang menunjukkan kegigihan perjuangan santri dan tokoh pesantren dalam memperjuangan Indonesia.

Perang Diponegoro misalnya, perang tersebut sejatinya adalah perlawanan kaum santri melawan Belanda dengan dipimpin Pangeran Diponegoro atau lebih pantas disebut “Kyai Diponegoro”, karena beliau sejatinya adalah orang yang 'alim ilmu agama. Dalam perlawanannya, Kyai Diponegoro menjalin komunikasi dengan pesantren-pesantren yang memiliki basis massa dan militansi yang tinggi. Laskar Kyai Diponegoro menaungi ulama-ulama besar dan terkenal di berbagai daerah, seperti Sentot Ali Basa. Beliau mendapat  sebutan Basa, merujuk kepada pangkat Pasa, semacam pangkat panglima di Kesultanan Turki Utsmani. Selain beliau, ada juga Kyai Mojo, Kyai Hasan Besari,  KH. M. Syahid (anak  Syekh Ahmad al-Mutamakkin), Kyai Umar Semarang, Kyai Abdus Salam, Kyai Abdurrauf, Kyai Mutaad, dan Syekh R. Baing Yusuf. Penulisan sejarah perlu diluruskan, bahwa pendorong perjuangan Pangeran Diponegoro bukan karena makam keluarga yang digusur Belanda, namun lebih dari itu, lahir dari panggilan Islam yang menuntut perjuangan membela tanah air.

Pasca kekalahan dalam perang Diponegoro, para kyai dan santri tersebut kembali lagi ke pesantren-pesantren dan membangun kekuatan intelektual dan perjuangan yang pada dekade setelahnya kembali meneruskan perjuangan mereka. Para kyai dan santri pengikut Diponegoro tersebut dalam sejarah melahirkan tokoh-tokoh nasionalisme dan pahlawan Indonesia. Kyai Hasan Besari kembali mengembangkan pendidikan pesantren di daerah Tegalsari Ponorogo. Beliau punya dua cucu yang begitu hebat, yaitu Kyai Munawir yang kemudian mendirikan pesantren di Krapyak Yogyakarta dan H. Oemar Said Tcokroaminoto  yang kemudian menjelma sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. HOS Cokroaminoto ini mempunyai banyak murid perjuangan yang menjadi tokoh nasional, yang paling menonjol adalah Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia. Selain itu Kyai Hasan Besari juga menjadi guru dari Kyai Abdul Manan. Kyai Abdul Manan ini merupakan  Kakek Syaikh Mahfudz Tirmasy yang merupakan salah satu Maha Guru dari pesantren-pesantren  di Indonesia.

Pengikut Kyai Diponegoro lainnya, KH. M. Syahid mempunyai murid yang kemudian dikenal dengan  Kyai Saleh Darat.  Kyai Darat inilah yang merupakan salah satu guru  KH. Ahmad Dahlan dan  KH. Hasyim Asy'ari. Lebih dari itu, beliau juga merupakan guru spiritual RA Kartini.  Kyai Saleh inilah yang menjadi inspirasi Kartini dalam perjuangannya. Surat menyurat dan komunikasi Kartini dengan Kyai saleh Darat ini tidak dipublikasikan oleh sejarawan Indonesia, sebaliknya yang muncul dalam khalayak sejarah bahwa inspirasi Kartini muncul dari komunikasinya dengan seorang Belanda yang bernama Abendanon.

Kyai Abdussalam, santri pejuang Diponegoro lainnya,  mempunyai dua cicit yang menjadi Pahlawan Nasional, yaitu KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Chasbullah, keduanya merupakan saudara sepupu. Bahkan KH. Hasim Asy'ari mempunyai putra yang begitu besar jasanya bagi negeri kita. Putra beliau adalah tokoh yang memberi usul ke jepang untuk membentuk Hizbullah. Hizbullah kemudian seolah-olah menjadi tentara Indonesia karena tentara yang sebenarnya waktu itu belum benar-benar terbentuk dan/atau terkoordinasi. Putra KH. Hasyim Asy’ari juga  terlibat dalam perumusan dasar negara, beliau adalah KH. Wahid Hasyim yang kemudian mempunyai putra lagi yang menjadi pemimpin negeri ini, KH. Abdurrahman Wahid.

Kyai Muta'ad, sekembali dari perang Diponegoro fokus mendidik anaknya yang kemudian mempunyai anak bernama KH. Abbas. Kyai dari Cirebon ini menjadi salah satu "Panglima Besar" perang 10 November Surabaya. Beliau juga mendorong anaknya, KH. Abdullah Abbas, untuk menjadi bagian dari 500 orang yang mengikuti pelatihan Hizbullah di Bogor oleh Tentara Jepang.

Sedang Syekh R. Baing Yusuf mempunyai murid bernama Syekh Nawawi Al Bantani yang menjadi salah satu ulama’ Indonesia yang mendunia. Selain itu, al-Nawawi juga merupakan motor penggerak nasionalisme untuk mempertahankan bumi pertiwi dan melepaskannya dari cengkeraman penjajah. Sepulang menuntut ilmu di Mekah, beliau melihat banyak praktik ketidakadilan yang merebak di Banten. Banyak penindasan dan kesewenang-wenangan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Mengamati hal tersebut, beliau melakukan “ekspedisi” mengelilingi kota Banten dengan tujuan mengobarkan semangat nasionalisme melawan penjajah.[4]

Pesantren pada masa penjajahan juga berfungsi sebagai basis perjuangan. Pesantren lain yang juga tidak kalah perannya dalam perjuangan adalah pesantren Ndresmo Surabaya, dengan tokohnya yang paling dikenal adalah KH. Mas Mansur. Tokoh yang juga ikut mendirikan organisasi perjuangan bersama KH. Wahab Khasbullah ini terkenal keras melawan penjajah dan gencar menggelorakan semangat warga Surabaya untuk melawan sekutu. Karena itulah beliau diangkat menjadi pahlawan nasional.

Nasionalisme tokoh-tokoh pesantren juga tampak jelas dalam perjuangan pergerakan Indonesia dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh pesantren rela mengorbankan idealismenya (mendirikan negara berdasarkan Islam) demi persatuan bangsa Indonesia yang baru lahir.  Ketika Belanda ingin kembali menguasai Indonesia setelah kemerdekaan dengan membonceng NICA, para kyai, ulama, dan santri pesantren berada dalam garda depan perjuangan. Resolusi Jihad yang dikumadangkan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 telah membakar semangat juang santri dan bangsa Indonesia. Resolusi jihad kemudian melahirkan kisah perjuangan terdahsyat di Indonesia, pertempuran arek-arek Suroboyo, yang kemudian ditetapkan sebagai hari pahlawan, 10 Nopember.

 Sayangnya peran pesantren dalam nasionalisme di Indonesia kurang dihargai dan tidak tertulis dalam buku sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dipublikasikan oleh pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, usaha-usaha mengangkat sejarah tersebut terus digiatkan kalangan pesantren. Salah satunya adalah dengan ditetapkannya 22 oktober sebagai hari santri nasional. Namun ini bukanlah akhir, usaha selanjutnya yang harus diupayakan adalah penulisan sejaran perjuangan bangsa Indonesia yang lebih proporsional terhadap perjuangan pesantren dan dunia Islam. Wallahu a’lam.

[1] Hasan al-Banna, Majmu’ at al-Rasail (Kairo: Dar al-Tiba’ah wa al-Nashr wa al-tawzi’ al-Islamiyah, 1992)

[2] Sebagian penulis berpendapat bahwa pesantren pertama dirintis oleh Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 822 H atau 1419 M. Sebagian yang lain menyebut Sunan Ampel atau Raden Rahmat sebagai pendiri pesantren pertama di Indonesia. Bahkan ada ulama yang menganggap Sunan Gunung Jati sebagai pendiri pesantren pertama. Walau demikian, mengingat ketiga tokoh yang diperselisihkan sebagai orang pertama yang mendirikan pesantren diatas rentang waktu kehidupan mereka tidak terlalu jauh, maka dapat disimpulkan bahwa pesantren telah ada sejak sekitar 600 tahun yang lalu Lihat: Mujamil Qomar, Pesantren: dari Transformasi Metodologi, 8

[3] Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem pendidikan pesantren diadopsi dari India, sedang sebagian yang lain membantah dan mengatakan bahwa sistem pesantren diadopsi dari tradisi Islam di Timur Tengah, seperti baghdad dengan al-Nidhamiyah dan Mesir dengan al-Azharnya. Lihat: Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, Cet. 2  (Jakarta: LP3ES, 1994), 20-22

[4] Dinukil dari buku “Api Sejarah” Karya A. Mansur Suryanegara  dan buku “Laskar Ulama-Santri&Resolusi Jihad” karya Zainul Milal Bizawie


Tulisan ini dimuat dalam MAHA Media edisi 34

No Comments Yet.

Leave a comment