Metode Kontekstualisai Kitab Mbah Hasyim

Oleh: Fatikhudin*

Kitab turats seperti yang kita ketahui adalah sebuah manuskrip kuno yang merupakan pemikiran ulama-ulama terdahulu terhadap masalah yang dihadapi saat itu. Berangkat dari pemikiran yang dituangkan dalam sebuah tulisan, para ulama mempunyai tujuan yang pasti, yakni menjawab masalah yang ada pada zaman itu. Turats yang dikarang pada zaman dulu bisa saja dikorelasikan dengan zaman sekarang. Sering kita lihat dalam sebuah forum bahtsul masail, turats tetap menjadi rujukan utama dibanding kitab-kitab kontemporer. Akan tetapi, ketika turats tidak bisa menjawab masalah yang ada, dalam artian kajian isinya, kitab kontemporer biasa menjadi rujukan. Ini bukan berarti turats tidak bisa menjawab, karena pemikiran ulama-ulama terdahulu selalu dibenturkan dengan masalah saat itu. Wajar saja jika dalam kitab-kitab turats tidak ada bahasan tersendiri, karena berkembangnya zaman beriring dengan masalah yang berkembang.

Kelompok yang hanya merasa cukup dengan turats klasik cenderung membanggakan warisan masa lalu dan menganggap bahwa masa lalu adalah gambaran masa depan. Bagi mereka, generasi awal Islam adalah generasi terbaik, sehingga untuk sampai pada kemodernan, alternatif utama adalah kembali mengikuti langkah-langkah para pendahulu. Hanya saja, kelemahan golongan ini terlalu menyakralkan turâts tanpa ada sikap kritis terhadapnya. Mereka terjebak pada impian generasi awal, sementara lupa bahwa realitas sosial masyarakat Islam telah berubah.

Setiap muallif (pengarang) mempunyai metode yang berbeda-beda dalam mengarang sebuah kitab. Hal itu dilatarbelakangi oleh perbedaan lingkungan daerah yang ditempati. Selain itu, perbedaan dalam metode mengarang sebuah kitab tersebut juga disebabkan oleh perbedaan guru, atau dalam kata lain, kepada siapa mereka belajar. Kita ambil contoh KH. Hasyim Asy`ari. Saat ini banyak kita jumpai buku-buku yang membahas Beliau, terutama tentang riwayat hidup dan pemikiran yang ada pada karya Beliau. Pertama, buku karya Akaranaf (Abdul Karim Hasyim Nafiqoh, putra Beliau) berjudul "Kiai Hasyim Asy`ari, Bapak Umat Islam Indonesia” (1949); Kedua, buku karya Solichin Salam berjudul “KH. Hasyim Asy`ari, Ulama Besar Indonesia” (1963); Ketiga, karya Heru Sukardi berjudul “Kiai Hasyim Asy`ari, Riwayat Hidup dan Perjuangannya” (1985); Keempat, buku karya Muhammad As`ad Syihab dari Lebanon yang diterjemahkan oleh Mustofa Bisri dengan judul "Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy`ari" (1994). Tak hanya tentang riwayat hidup Beliau, buku yang membahas tentang pemikiran Beliau juga ada, seperti karya Zuhairi Misrawi berjudul “Hadratussyaikh Hasyim Asy`ari, Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan” (2010) dan karya Mukani berjudul “Berguru ke Sang Kiai, Pemikiran Pendidikan KH. Hasyim Asy`ari” (2016).

Dari beberapa buku yang dipaparkan di atas, bisa dikatakan bahwa metode Beliau dalam mengarang sebuah kitab memang berbeda dengan ulama lain. Beliau tidak hanya mengaitkan dengan situasi pada saat itu, akan tetapi juga memikirkan masalah yang akan dihadapi oleh masa yang akan datang. Selain itu, dalam mengarang sebuah kitab, Beliau terlebih dahulu menganalisa kondisi sosio-kultural yang ada saat itu. Beliau juga menganalisa struktur psikologi masyarakat dan mengkaji lebih dalam mengenai pengaruh peninggalan masa lalu dalam realitas kehidupan mereka. Dengan kata lain, realitas sosial masyarakatlah yang melingkupi pembentukan kitab.

Misalnya dalam kitab Beliau yang sering dikaji di pesantren-pesantren, yaitu Adabul Alim wal Muta`allim. Kitab ini membahas tentang adab seseorang yang mengajar dan yang diajar. Dalam mukadimah kitab ini, Beliau menjelaskan “Bahwa jika adab menduduki peringkat yang tinggi seperti itu, sedangkan jalan-jalan untuk mengetahuinya secara detail cukup sulit, di samping itu kenyataan yang aku lihat di mana murid membutuhkan adab sementara mereka sering kesulitan mengkajinya, maka aku terdorong untuk menyusun buku kecil ini sebagai alarm pengingat bagi saya pribadi dan bagi mereka-mereka yang masih sedikit ilmunya. Aku namakan buku ini ‘Adabul `alim wal muta`allim’. Semoga Allah menjadikannya berguna dalam kehidupan ini dan di akhirat nanti. Sesungguhnya Allah pemilik segala kebaikan”.

Ketika kita membaca kitab ini, kita akan meresapi dan merasakan bagaimana kitab ini sangat cocok dan pas jika dikorelasikan dengan zaman modern sekarang. Banyaknya orang yang pintar, tetapi sedikit orang yang mempunyai adab. Jadi metode Beliau mengarang ialah dengan melihat realitas-realitas di sekitar.

Selain itu, kitab Beliau yang masyhur juga adalah Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah Fi Hadits Al-Mauta Wa Asyrathi As-Saa’ah Wa Bayani Mafhum As Sunnah Wal Bid’ah. Kitab ini adalah hujjah, argumen, penjelasan, dan paparan yang dapat mendatangkan kemuliaan dan keselamatan bagi kaum muslimin. Sebab, dalam kitab ini Beliau telah merumuskan akidah-akidah yang shahih ala Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Saat ini segenap kaum muslimin sangat membutuhkan panduan tersebut. Karena di tengah-tengah mereka sedang terjadi pencampuradukan antara keutamaan dan kehinaan, antara yang hak dan yang batil. Saat ini, orang awam berani mengeluarkan fatwa. Padahal, pemahamannya terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAW sangat terbatas.

Sekali lagi penulis tegaskan, bahwasanya ketika mengarang sebuah kitab Mbah Hasyim tidak hanya mengkorelasikannya dengan kondisi saat itu. Akan tetapi, lebih berpikir ke depan, yakni masalah-masalah yang alan dihadapi pada zaman sekarang. Inilah hebatnya para ulama kita. Mereka bisa mengetahui hal yang belum terjadi. Terbukti dengan kitab-kitab yang menjadi rujukan menyelesaikan masalah di zaman modern ini.


*Mahasantri angkatan 2014

Tulisan ini dimuat dalam MAHA Media edisi 33

No Comments Yet.

Leave a comment