Pemuda Dan Tantangan Zaman Modern

Oleh: Aulia Choirunnisa

Berbicara tentang pemuda dan tantangan zaman modern, Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 66:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Selama ini tafsir surat At-Tarhim: 6 sering ditujukan untuk kepala keluarga. Namun di sini kita bisa menginterprestasi ulang ayat di atas bukan sekedar pengertian umum yang tersurat, tetapi mari memahami apa tersirat di dalamnya.

Ayat 6 surat At Tahrim di atas bisa diartikan sebagai pijakan bagi generasi muda bahwa setiap jiwa (khususnya pemuda) mempunyai kewajiban tidak sekedar menjaga diri sendiri tapi juga seluruh umat Islam dari perilaku yang merusak baik kepada sesama maupun alam semesta agar tercipta kondisi yang damai, tentram bagi seluruh umat manusia. Pemuda dituntut menjadi inspirasi dan tulang punggung bagi umat Islam untuk senantiasa mendorong dan menjaga dinamika perubahan yang ada di masa mendatang agar sejalan dengan nilai-nilai yang ada di dalam Islam. Pemuda menjadi semacam kontrol untuk bisa mengekang hawa nafsu duniawi yang menjerumuskan kepada kemungkaran.

Masa remaja adalah masa di mana kita dihadapkan dengan berbagai macam masalah dan tantangan. Terutama di era milenial seperti sekarang ini, era menjamurnya berbagai media komunikasi yang memberikan nilai positif di satu sisi namun di sisi lain justru menyebabkan penyakit adaptasi. Pemuda sekarang cenderung menerima unsur-unsur asing atau budaya barat tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Ketika orang-orang barat berjudi, remaja dan pemuda kita sedang terlena dengan permainan gaplek dan remi. Ketika orang-orang barat terlena dengan minum-minuman keras, remaja dan pemuda kita sedang terlena dengan budaya mabuk-mabukkan tenggak Whiskey dan Brandy. Dan yang paling besar dan mendasar adalah penyakit adaptasi ini melahirkan dehumanisasi, demoralisasi dan despiritualisasi. Akibatnya, manusia hidup bebas, beringas, keras, ganas, bahkan lebih ganas daripada binatang buas.

Sulitnya menjadi remaja yang hidup di zaman modern seperti ini. Ketika rajin shalat ke masjid maka dianggap orang punya hutang melilit. Rajin datang ke pengajian, dianggap cuma mau pamer berlian. Ada ulama lewat mau salim, dibilangnya sok alim. Berpenampilan rapi pakai sorban pakai gamis, justru dianggap teroris. Sehingga banyak pemuda yang lebih menang gengsinya daripada mau mengikuti syariat agamanya.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Anfaal ayat 24:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ  {24}

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah SWT dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

Berdasarkan ayat di atas maka dapat kita pahami bahwa dalam membangun remaja dan pemuda hendaknya kita dapat membatasi antara manusia dengan hatinya. Namun seperti apakah membatasi manusia dengan hatinya? Syeikh As-Samarqandi mengatakan dalam kitab tafsirnya Bahr Al-Ulum bahwa yang dimaksud dengan yahulu bainal mar’i wa qolbihi adalah membatasi antara orang mukmin dengan kemaksiatannya yang mengarahkannya dan mendekatkannya dengan api neraka. Dan membatasi antara orang kafir dengan ketaannya yang dapat mendekatkannya dengan surga.

Masalah mendasar tapi berdampak amat besar yang dihadapi oleh pemuda di zaman modern ini yang pertama adalah style, dari mulai fashion style bahkan sampai kepada life style. Pemuda sekarang berlomba-lomba mengikuti budaya asing supaya bisa mendapatkan predikat anak hits. Rambutnya warna pelangi, wajahnya ditindik sana ditindik sini, baju ketat kombinasi rok mini, sepatunya tinggi pakai hak 17 senti.

Yang kedua adalah masalah IT. Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang menjadikan teknologi informasi dan komunikasi mudah didapat dan sangat digemari. Tetapi pemuda masa kini kurang bijak dalam menggunakan teknologi tersebut. Maraknya fitur yang dianggap menyenangkan seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path dan lain-lain menjadikan pemuda sekarang memilih menjadi aktivis media sosial daripada mau berteman di dunia nyata. “Supaya jadi anak hits kekinian,” katanya.

Dan yang ketiga adalah love and sex. Budaya pacaran yang sudah menjadi hal yang lumrah, kedekatan antara laki-laki dan perempuan tanpa batas dengan alasan teman biasa hingga berujung saling cinta. Kalau sudah cinta, apapun diberikan yang penting si dia bahagia. Hingga merajalelanya seks bebas, perkawinan sebelum pernikahan, kalau sudah begitu yang tersisa hanyalah penyesalan.

Dalam menemukan remaja dan pemuda  yang sejati di tengah-tengah hiruk-pikuk kemaksiatan yang dapat menjerumuskan kita ke lembah kenistaan, maka kita harus menemukan metode yang efektif dalam mengarunginya. Dalam hal ini, Allah SWT mengajarkan dan memerintahkan kepada kita. Sebagaimana firman-Nya di dalam surat Ar-Ruum ayat 60:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَ لاَ  يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ  لاَ يُوقِنُونَ {60}

Artinya: “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah SWT adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah SWT) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Ruum: 60)

Berdasarkan ayat tersebut kita diperintahkan untuk bersabar terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan terhadap apa yang dipanjatkan kepada Allah swt meskipun kita dapatkan banyak  yang membangkang.

Mari bergaya asalkan sesuai syariat agama. Mari menggunakan teknologi dengan berhati-hati. Mari bijak menjaga hati karena cinta sejati takkan salah mengetuk pintu dan tahu ke mana hati harus kembali. Ingatlah 5 kelemahan yang harus kita hindari, yaitu lemah fisik (dho’iiful jismi), lemah ilmu (dho’iiful ilmi), lemah harta (dho’iiful maal), lemah semangat hidup (dho’iiful jub), dan lemah akhlak (dho’iiful akhlaaq).


*Mahasantri angkatan 2017

No Comments Yet.

Leave a comment