Blog

Peran Ma’had Aly dalam Membangun Kesadaran Ekologis

Artikel Mahasantri

Peran Ma’had Aly dalam Membangun Kesadaran Ekologis

Krisis lingkungan hidup bukan lagi sekadar wacana akademik. Ia telah menjadi kenyataan yang kita rasakan setiap hari: udara kian kotor, sungai tercemar, suhu bumi meningkat drastis serta berbagai bencana alam lain yang menghantui. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan agama, khususnya pesantren dan Ma’had Aly, memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan kesadaran ekologis di tengah rusaknya alam. Bumi bukan hanya tempat berpijak, tetapi juga amanah Tuhan yang harus dijaga. Sehingga tidak sepatutnya Mahasantri Ma’had Aly abai mengenai masalah lingkungan.

Pesantren dan Amanah Ekologis

Islam fokus kajian isu lingkungan dengan meluncurkan satu kajian khusus berupa Fiqh Ekologi dan Teologi Ekologi. Dengan landasan kitab suci Al-Quran pentingnya menjaga lingkungan, salah satunya QS. Al-A’raf ayat 56

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ.

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” Menjadi pengingat agar menahan nafsu merusak bumi. Nabi menegaskan pentingnya menjaga bumi dengan menanam pohon meski telah kiamat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمُ الْقِيَامَةُ، وَفِي يَدِهِ فَسِيلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا»

“Dari Sahabat Anas ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah benih, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki potensi besar untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Bukan sekadar tempat mengaji kitab, melainkan juga pusat pembentukan karakter dan etika sosial. Kini, dengan berdirinya Ma’had Aly, lembaga pendidikan tinggi di bawah naungan pesantren, memiliki kesempatan luas. Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng tidak hanya dikenal melahirkan kader ulama, tetapi juga mulai tampil sebagai pionir dalam pendidikan ekologis di lingkungan pesantren. Upaya ini tidak hadir tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah.

Akhir tahun 2025 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menggelar 1st Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) International Conference on Prophetic Heritage Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng. Dengan tema “Eco-Sunnah dan Krisis Ekologis Global: Merumuskan Kontribusi Islam melalui Hadis untuk Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)”. Konferensi ini akan mengeksplorasi persimpangan antara Al-Sunnah dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk Al-Qur’an wa ulumuhu, Tafsir, Hadis, fikih, aqidah, Falak, Sejarah Bahasa dan Sastra Arab, Ekonomi, Sosial Budaya, Ilmu Politik, Ilmu Pengetahuan Alam, Mikrobiologi, Teknologi, dan Ilmu Kesehatan.Ini menjadi ajang diskusi para peneliti, akademisi dan pemerhati hadis dari berbagai penjuru dunia. Sehingga peran Ma’had Aly dan Mahasantri terhadap lingkungan menjadi bentuk nyata merawat bumi.

Menafsirkan Ulang Hadis: Dari Teks ke Aksi

Tradisi diskusi di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menjadi ruang penting bagi santri untuk belajar menafsirkan teks agama secara kontekstual. Ketika persoalan lingkungan dibawa ke meja musyawarah, teks hadis dibaca ulang dengan sudut pandang ekologis. Hasilnya adalah lahirnya hadis-hadis lingkungan, hadis yang berpihak pada kelestarian bumi. Pendekatan ini mencerminkan prinsip tafaqquh fi al-dīn yang sejati: memahami agama secara mendalam dan aplikatif. Santri belajar bahwa agama bukan hanya mengatur hubungan dengan Tuhan, tapi juga dengan alam.

Pada peringatan Hari Bumi tahun 2025, Ma’had Aly Tebuireng menggelar workshop lingkungan yang diikuti lebih dari seratus mahasantri. Dalam acara itu, para mahasantri diajak memahami dan berdikusi bahwa sampah bukan hanya masalah kebersihan, tapi juga masalah keimanan. “Kebersihan adalah sebagian dari iman” bukan sekadar slogan, tetapi prinsip hidup yang harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Ini memantik semangat para mahasantri untuk terus merawat bumi dengan seminimal mungkin dimulai dari pribadi masing-masing.

Program seperti ini merupakan bentuk ekopedagogi pesantren, pendidikan yang menanamkan kepedulian terhadap alam melalui kegiatan nyata. mahasantri belajar bahwa menjaga lingkungan bukan urusan aktivis semata, tetapi juga bagian dari menjalankan ajaran Islam.

Penutup: Santri Hijau, Bumi Berkah

Langkah-langkah yang dilakukan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi pusat gerakan hijau berbasis nilai Islam. Mulai dari fatwa ekologis, pengelolaan sampah, hingga gerakan sampahku tanggungjawabku, semuanya menunjukkan transformasi kesadaran santri terhadap alam.

Memang, tantangan masih ada. Kesadaran sebagian mahasantri belum merata, fasilitas daur ulang masih terbatas, dan budaya konsumtif masih membayangi. Namun, yang lebih penting adalah arah perubahannya sudah benar. Kesadaran ekologis kini bukan hal asing di dunia pesantren.

Jika di masa lalu pesantren dikenal sebagai benteng moral bangsa, maka di masa kini pesantren berpotensi menjadi benteng ekologis Indonesia. Santri bukan hanya menjaga akidah dan akhlak, tetapi juga menjaga bumi. Sebab, bagaimana mungkin seorang hamba mencintai Sang Pencipta jika ia abai terhadap ciptaan-Nya?Pesantren hijau bukanlah utopia, tetapi keniscayaan. Dan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari telah membuktikan bahwa ilmu agama, ketika dipadukan dengan kesadaran ekologis, dapat menumbuhkan generasi santri yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga ramah terhadap bumi.

Penulis: Aulia, Mahasantri M1 Wisuda 2025