Revitalisasi Akidah sebagai Solusi atas Ekses Arus Pemikiran di Era Globalisasi

Oleh: Wildan Ulumul Fahmi*

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia  memiliki peran penting dalam misi dakwah Islam, terutama dalam menjaga paham ahlus sunnah wal jamaah (dalam redaksi bahasa Indonesia ahlusunah). Di era millenial yang syarat dengan kemajuan dalam berbagai aspek turut membantu misi dakwah Islam yang tidak pernah usai, dakwah yang otomatis mempunyai tantangan berbeda sesuai perkembangan zaman. Mungkin kita tidak banyak menyadari bahwa saat ini sedang terjadi peristiwa yang sangat besar dalam sejarah umat Islam Indonesia. Kita sedang menghadapi tantangan akidah yang sangat serius, serbuan barat terhadap ilmu-ilmu Islam dengan fasilitas dana dan sokongan para  ilmuwan yang mempunyai tujuan membuat perubahan keilmuan Islam. Di mana serbuan tersebut telah menjadi kenyataan dan menemukan realitasnya terutama yang terjadi di perguruan tinggi.

Leipold Weiss seorang mualaf keturunan Yahudi mengingatkan dalam bukunya Islam at the cross road,  “Kita sedang hidup pada satu zaman yang kalau tidak hati-hati umat Islam bisa hancur.” Tantangan yang sedang kita hadapi dewasa ini sebenarnya bukan masalah sosial, politik, budaya, ekonomi saja, tetapi  tantangan pemikiranlah yang sedang dikembangkan musuh-musuh Islam yang berusaha merusak agama Islam. Karena  masalah-masalah politik, ekonomi, sosial ternyata timbul dari pemikiran, di antara tantangan yang paling serius yaitu di bidang pemikiran keagamaan terutama masuknya sekulerisme, liberalisme, pluralisme, relativisme dan sebagainya ke dalam wacana pemikiran keagamaan.

Sekulerisasi dan liberalisasi yang terus berlangsung dalam berbagai sisi kehidupan sosial dan pemikiran keagamaan kini justru berpusat di kampus-kampus dan organisasi Islam bahkan mulai merambah ke pesantren. Paham ini menusuk jantung dan merobohkan Islam dari fondasinya yang paling dasar. Kita bisa menyaksikan fenomena kampus-kampus negeri ataupun Islam yang latah mengadopsi pemikiran barat yang jelas-jelas mempunyai tujuan menghancurkan Islam dari dasarnya. Dalam bidang akidah misalnya muncul buku hasil disertasi seorang doktor lulusan UIN berjudul Satu tuhan banyak agama, bagaimana bisa terjadi pemikiran yang menganggap tidak ada kebenaran mutlak atau relativisme sudah marak diyakini yang ujungnya pada pluralisme agama. Tidak hanya doktor bahkan pemikiran ini sudah semakin menjangkit para mahasiswa baru atau bahkan masyarakat non akademis secara umumnya, tidak bisa dibayangkan lulusan perguruan tinggi Islam yang diharapkan akan mengajarkan agama Islam secara luas justru menjadi sarjana ragu-ragu yang akhirnya akan berdakwah mengajak orang untuk bersikap ragu-ragu juga. Dalam bidang teks wahyu muncul penolakan autentisitas dan kesucian Al Qur’an, Nasr Hamid Abu Zaid,  tokoh senior liberal menyatakan bahwa posisi Rasulullah sebagai semacam pengarang Al Qur’an. Rasulullah sebagai seorang ummiy (tidak bisa baca tulis) bukanlah penerima wahyu pasif, tetapi mengolah redaksi Al Qur’an sesuai kondisinya sebagai manusia biasa, setelah Al Qur’an disampaikan oleh Rasulullah pada umatnya, maka telah berubah menjadi teks insani bukan teks ilahi yang suci dan sakral. Hal ini secara luas merupakan dampak melemahnya daya tahan umat Islam dalam menghadapi globalisasi yang disebabkan lemahnya pemahaman terhadap ajaran pokok dan akidah Islam.

Sekulerisme sendiri yang memiliki tujuan memisahkan manusia dari aturan agama dan metafisika merupakan cara berpikir yang keliru. Orang yang memahami akal dan iman sebagai hubungan yang terpisah berarti telah terjebak dengan budaya barat yang rusak. Akal dan nalar manusia menjadi salah satu bukti manusia sebagai makhluk mulia dan sempurna, keduanya menjadi sarana untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah, bukan sebaliknya digunakan menggerus keyakinan dan fitrah manusia terhadap kebenaran agama Islam.

Salah satu kewajiban penting yang diamanahkan Rasulullah adalah amar ma’ruf nahi munkar. Secara umum kaum muslim wajib mendukung tegaknya kebaikan dan melawan kemunkaran. Tugas ini wajib dilakukan seluruh kaum muslimin sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Ulama sebagai agen dakwah yang diamanahkan oleh Rasulullah memiliki peran penting dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, di mana ulama dituntut paham persoalan-persoalan terkini terkait medan dakwahnya, tentang  pemikiran klasik, pemikiran barat, sekulerisasi pendidikan, tentang akidah, ekonomi, dll.

Di satu sisi Indonesia yang sekarang mayoritas penduduknya berupa kalangan muda, memiliki peran besar dalam menentukan arah bangsa ini ke depannya. Bidang dakwah yang otomatis akan diisi kalangan muda, perlu pengawasan ketat dari para ulama-ulama pendahulu terutama dalam akidah. Yang sangat disayangkan dari generasi santri Indonesia yaitu sangat sedikit yang membidangi dalam ilmu akidah, berbeda dengan santri-santri yang membidangi ilmu-ilmu syariat. Masalahnya adalah, serangan pemikiran-pemikiran barat tidak akan bisa dilawan dengan syariat, tapi hanya bisa di tundukkan dengan kematangan dalam disiplin akidah. Bahaya ancaman pemikiran liberal saat ini sudah diambang pintu pesantren, tidak mustahil beberapa tahun ke depan pesantren akan menjadi corong utama pemikiran ini. Yang sedikit menggembirakan, salah satu keputusan Muktamar NU ke XXXI  di Solo pada tahun 2004 telah mengeluarkan rekomendasi membasmi wacana liberalisme dalam tubuh NU, serta menolak metode tafsir hermeneutika. Isi rekomendasi PBNU sendiri pada intinya mengimbau seluruh warga NU khususnya dan umat Muslim Indonesia umumnya agar menolak ide-ide Islam Liberal dengan segala variannya. Akan tetapi ini masih belum cukup, tanpa peran serta kalangan pesantren khususnya, seluruh komponen pesantren sudah saatnya merapatkan barisan guna mempertahankan ajaran ulama salaf, agar anak cucu kelak selamat akidahnya.

Bahtsul Masail sebagai salah satu komponen penting di pesantren, dalam rangka menguatkan dan menghadapi tantangan dalam bidang akidah, alangkah baiknya  tidak hanya berkutat pada masalah fikih saja, tapi juga merambah pada masalah-masalah akidah, tasawuf, maupun yang lainnya. Karena kita sama-sama menyadari asupan akidah dan moral generasi kita sangat meyedihkan. Shalat fardlu tidak pernah absen, rutin melakukan puasa, amalan sunnah dilakukan, tapi fondasi akidahnya sangat menyedihkan. Apabila sekali saja berdebat dengan pakar sains yang ateis maka shalat, puasa, dan amalan sunnahnya tidak akan ada bedanya dengan dedaunan kering yang diterjang puting beliung. Seperti bangunan megah dengan fondasi yang lemah, sekali terkena gempa maka semuanya akan ambruk.

Sekarang saatnya pesantren berada pada garis terdepan mempertahakan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana telah dilakukan oleh para imam-imam terdahulu ketika merespon munculnya beberapa paham yang menyimpang. Khazanah Islam masih tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan lembaga-lembaga pendidikan, kini saatnya kita buka kembali dan bangun dari tidur yang panjang. Lihat anak cucu kita, selamatkan mereka dari sekarang. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Thoriq.


Mahasantri angkatan 2018

Comments are closed.