Urgensi Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW bagi Kehidupan Umat

Oleh: Syofiatul Hasanah

Isra’ mi’raj merupakan salah satu mukjizat luar bisa yang dialami Rasulullah SAW berupa dua perjalanan spiritual maupun jasmaniah yang hanya ditempuh dalam semalam. Terjadi pada malam 27 Rajab pada tahun ke-10 Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Sehingga setiap tahun ummat Islam memperingati isra’ mi’raj tersebut tepat pada bulan Rajab.

Isra’ mi’raj memiliki makna yang berbeda.  Isra’ secara bahasa berasal dari kata { سرى}dalam bahasa arab yang bermakna perjalanan di malam hari. Menurut istilah merupakan perjalanaan Rasulullah SAW bersama malaikat Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina) pada malam hari. Sedangkan Mi’raj secara bahasa diambil dari kata {عرج}yakni naik menuju ke atas (langit). Secara istilah adalah tangga khusus yang digunakan Nabi Muhammad SAW dari Baitul Maqdis ke langit ke tujuh hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam. Jadi, isra’ mi’raj adalah dua kejadian luar biasa yang sama-sama ditempuh dalam semalam. Hal tersebut merupakan salah satu kekuasaan Allah SWT, dipertegas dalam QS. Al-Isra’ : 1

سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذي باركنا حوله لنوريه من آياتنا إنه هو السميع البصير

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidi Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagai tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesunggunya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Disebutkan dalam Tafsir Jalalaen karya Jalaluddin al Mahalli, bahwa Dia (Allah) melimpahkan nikmat-Nya kepadanya (Muhammad) dengan memperjalankannya di suatu malam, di dalam perjalanan tersebut di antanya Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi, naik ke langit bersama malaikat Jibril menyaksikan keajaiban-keajaiban alam dan bermunajat kepada Allah SWT.[1]

Selain merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, isra’ mi’raj juga merupakan perjalanan nyata, murni bukan mimpi ataupun khayalan. Dibuktikan dalam firman Allah SWT surah ke-53, An-Najm ayat : 13-18.

ولقد رآه نزلة أخرى, عند سدرة المنتهى, عندها جنّة المأوى, إذ يغشى السّدرة ما يغشى, مازاغ البصر وما طغى, لقد رأى من آيات ربه الكبرى.

“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada syuga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika di Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”

Kebenaran ini sungguh tidak dapat dicerna oleh logika manusia biasa, hanya orang-orang yang memiliki keimanan tinggilah yang mampu mempercayai akan peristiwa dahsyat tersebut.

 Allah SWT men-isra’mi’raj-kan Nabi Muhammad SAW setelah mengalami kesedihan yang luar biasa, di antaranya kehilangan keluarga tercinta yaitu pamannya, Abu Thalib dan istri setia, Sayyidah Khodijah. Di tahun kesedihan inilah Allah SWT memberikan hiburan serta jamuan kemuliaan kepada Nabi Muhammad SAW berupa peristiwa isra’ mi’raj, agar senantiasa selalu meningkatkan keimananan kepada Allah SWT dan meyakini bahwa peristiwa tersebut sebagai bentuk kasih sayangNya kepada hambanya.  Kisah ini dapat kita renungkan bahwa Allah SWT tidak akan menguji hambaNya melainkan sesuai dengan kemampuannya dan setiap kesedihan pasti akan tiba kebahagiaan.

Dalam perjalanan ini Rasulullah SAW dipertemukan dengan para Nabi-nabi terdahulu dari langit pertama hingga langit ketujuh. Yakni Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Yahya AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Musa AS dan Nabi Ibrahim. Tak hanya itu, kebahagiaan dan rasa takjub beliau semakin bertambah ketika memasuki Baitul Ma’mur yaitu tempat bertemunya Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim AS bapak para nabi serta tempat ibadah para malaikat yang setiap harinya dimasuki 70.000 malaikat dan tak pernah beranjak dari tempat. Hal ini menujukkan ketaatan para malaikat dalam beribadah kepada tuhanNya.

Mi’raj terakhir Nabi Muhammad SAW yaitu Sidratul Muntaha, tempat yang sangat luar biasa di mana Rasulullah bertemu langsung dengan Allah SWT tanpa melalui perantara serta menerima wahyu berupa perintah shalat 50 kali dalam sehari semalam. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW meminta keringanan kepada Allah SWT atas saran dari Nabi Isa AS yang mengatakan bahwa umat Nabi Muhammmad tidak akan pernah mampu melaksanakan perintah tersebut.

Kemudian Allah SWT memberikan keringanan kepada Nabi Muhammad SAW beserta umatnya dengan perintah shalat hanya lima kali dalam sehari semalam. Perintah langsung ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah shalat bagi kita. Sebab dengan ibadah shalatlah seorang hamba bisa melakukan komunikasi langsung dengan Tuhannya. Dan sudah sepatutnya umat Islam mengerjakan perintahNya dengan keataatan, kekhusuan, serta terus meningkatkan kualitas keimanan.

[1] Kitab Tafsir Jalalaen Karya Jalaluddin Al Mahalli.


Mahasantri angkatan 2020

Comments are closed.