Jadilah Pembina yang menjadi Uswah Hasanah! Ini Harapan MAHA kepada Kader Diklat Angkatan 23
Jadilah Pembina yang menjadi Uswah Hasanah! Ini Harapan MAHA kepada Kader Diklat Angkatan 23
Sabtu (09/05/2026) kader Pesantren Tebuireng Angkatan 23 menerima materi Corak Pengabdian ala Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) oleh Mudir MAHA, Dr. H. Achmad Roziqi, Lc.,M.H.I dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) calon pembina santri. Kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap tahunnya bagi mahasantri semester 6 dan bertempat di Aula Balai Diklat Pesantren Tebuireng.
Dalam pemaparan materinya, beliau menjelaskan peran dari masing-masing pesantren dan Ma’had Aly. “Pesantren bukan hanya berperan dalam bidang pendidikan saja, melainkan dakwah dan juga pemberdayaan masyarakat yang sudah diatur dalam UU nomor 18 tahun 2019. Adapun Ma’had Aly, selain tarbiyah dan bahts, Ma’had Aly juga berjibaku dalam khidmah. Yang mana, khidmah ini kemudian dimaknai sebagai pengabdian masyarakat,” jelas beliau. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa di MAHA, pengabdian ini menjadi salah satu syarat pengambilan ijazah dengan penilaian berbasis kinerja selama masa pengabdian. Apabila nilai yang diperoleh belum memenuhi standar, maka konsekuensinya dapat berupa penambahan masa pengabdian.
Beliau juga menyampaikan harapan MAHA kepada calon pembina santri agar bisa menjadi pembina yang menjadi uswah hasanah, “Adapun harapan MAHA kepada calon pembina santri adalah agar pembina tidak hanya menjadi security—sebatas membangunkan, mengabsen, atau menyetorkan dokumentasi kepada wali santri—tetapi juga mampu mewarnai keilmuan dan akhlak anak-anak binaannya. Seorang pembina diharapkan mampu membentuk perilaku santri sesuai nilai Kulluna ‘ala Darbil Hasyimi; menjadi pribadi berilmu yang mengamalkan ilmunya, pantas dicium tangannya, dan mampu menjadi uswah hasanah bagi santri-santrinya.”
Di penghujung materi, beliau kembali berpesan bahwa pembina harus menjadi kiblat etika bagi anak binaan, seolah menjadi gambaran nyata dari kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim yang hidup dalam keseharian. Karena itu, seorang pembina tidak boleh berperilaku yang kontradiksi terhadap etika pesantren. Sebab, keberkahan tidak hanya terletak pada ilmu, tetapi juga pada adab dan akhlak. Maka, setiap pembina harus senantiasa mempertimbangkan setiap perilaku dan sikapnya.


Kontributor: Irma Khumairoh Nurdin
Editor: Mawil Hasanah Almusaddadah
