Nyai Khoiriyah Hasyim, Sang Inspirator Muslimah Masa Kini

Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional 2021, Menteri Pemberdayaan Wanita (MENPAWA) DEMA Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng mengadakan kegiatan sharing online yang mengusung tema “Mengenal Ibu Nyai Khoiriyah Hasyim”. Kegiatan ini diisi oleh Ibu Nyai Nur Laili Rahmah, cucu Nyai Khoiriyah Hasyim sekaligus Direktur Yayasan Khoiriyah Hasyim, Jum'at, (12/03/2021).

Ibu Nyai Nur Laili Rahmah menjelaskan tentang sepak terjang hingga dedikasi Nyai Khoiriyah Hasyim.  Nyai Khoiriyah Hasyim adalah putri dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asyari dan Nyai Nafiqoh. Sejak kecil, beliau dididik langsung oleh Hadratussyaikh. Beliau memang disiapkan untuk menjadi orang yang mumpuni dalam ilmu agama. Oleh karena itu, keilmuan Sang Pejuang Perempuan ini tidak perlu dipertanyakan lagi.

Nyai Khoiriyah Hasyim merupakan sosok yang ulet, mandiri, cerdas, gigih, dan berkepedulian tinggi, terutama kepada pendidikan perempuan. Kepedulian inilah yang menggerakkan hati beliau untuk mendirikan Madrasah lil-Banat di Mekkah. Tak hanya itu, Pondok Seblak yang didirikan bersama sang suami, KH. Ma’shum Ali, juga menjadi pondok kedua di Jombang yang menerima santri putri.

Kala itu, perempuan-perempuan masih menutup aurat hanya dengan selendang sehingga aurat bagian leher masih terlihat. Dengan keterampilan yang dimiliki Nyai Khoiriyah, beliau pun mendesain kerudung rubu  agar aurat perempuan dapat tertutup dengan sempurna. Sifat inovatif inilah yang patut kita teladani.

Ibu Nyai Nur Laili Rahmah menambahkan, perempuan haruslah bersikap mandiri. Perempuan harus bisa mengatur kegiatannya sendiri dan melakukan apa pun tanpa bergantung dengan siapa pun.

“Banyak sekali sikap atau karakter Nyai Khoiriyah Hasyim yang patut kita teladani. Namun, zaman dulu dan zaman sekarang tentulah berbeda. Inilah tantangan besar kita sebagai muslimah. Bagaimana menjadi wanita tangguh, berpendidikan, dan cerdas. Bagaimana menyelaraskan hati dan pikiran yang menerima kemajuan namun tetap berada di koridor agama,” pungkas Nyai Laili. (Indah Kurnia/Dinar)

Comments are closed.