PERAN MUSLIMAH DALAM MENYONSONG TAHUN DEMOKRASI

Menteri Pemberdayaan Wanita (Menpawa) Dewan Eksekutif Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) mengadakan Seminar Nasional For Woman di aula kampus. Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama Banom Nisa’iyah Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia dengan Menpawa MAHA Tebuireng. Acara yang dimulai pukul 08:00 WIB ini, diikuti oleh mahasantri putri MAHA dan juga berlaku untuk umum. Adapun tema yang diangkat adalah “Peran Muslimah dalam Menyonsong Tahun Politik” yang dinarasumberi oleh ibu Nyai. Hj. Aisyah Muhammad Baidlowi, Ketua 1 Muslimat Kota Jombang.

Dalam prolognya, Ibu Ny. Hj. Aisyah menekankan, ketika terjadi krisis ekonomi dan skandal sosial yang kurang baik adalah termasuk kesalahan rakyat dalam menggunakan hak pilihnya dalam memilih pemimpin. Oleh sebab itu, kita perlu untuk lebih independen dalam berpikir dan mengenal lebih dekat calon pemimpin.

“Ini mengutip konsep demokrasi menurut Abraham Lincoln yang mendefinisikan sebagai negara yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, Abraham Lincoln juga menyuarakan bahwa adanya kebebasan bagi setiap individu untuk bertindak memilih secara bertanggung jawab,” terangnya.

Adanya konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, dan UU No. 08/2012 tentang pemilu anggota DPR, DPD, DPRD, bahwa adanya hak perempuan di legislatif dan hak perempuan dalam demokrasi menjadi salah satu penentu arah keadilan. Juga harus adanya 30% perempuan yang aktif di kancah politik pada setiap negara. Ini adalah suatu alat bagi para perempuan untuk tidak takut dalam unjuk dirinya dalam melakukan gerakan perubahan.

Usai pemaparan materi, Nailia Maghfiroh -mahasantri semester 6-, moderator acara, menjelaskan rangkuman dari materi yang telah disampaikan. Ketika sesi tanya jawab dibuka, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Salah satunya dari Intan Albeti, mahasantri semester 4.

“Kiprah ulama sangat berpengaruh kepada masyarakat. Nah, ketika kita tau bahwa ulama ini memilih kubu yang ini, itu dan sebagainya, apa sikap yang sebaiknya kita ambil? Mengingat tradisi pesantren yang patuh dengan guru, apakah kita harus mengikuti tanpa melihat arti ‘bebas’ dalam memilih?”. Jelas Intan Albetti, mengingat tahun ini adalah tahun politik.

Ibu Ny. Hj. Aisyah Muhammad Baidhowi pun mengungkapkan, jika terjadi sesuatu seperti yang ditanyakan tadi, hendaklah memilah-milah kedua pendapat, jika masih ragu, tanyakan kepada ahlinya, kemudian diakhiri dengan minta petunjuk dengan Allah, karena Dia akan memberi kita jawaban sesuai cara-Nya. InsyaAllah.

“Perempuan dalam demokrasi butuh penguatan lahir batin (dari keluarga, orang terdekat, dan komunitas) untuk menguatkan hati, pikiran, dan semangat sebagai landasan yang kuat untuk perdamaian dan kemaslahatan. Oleh karenanya, kita harus peduli satu sama lain dengan tidak memandang status apapun.” Imbuhnya kembali.

Sebelum acara diakhiri, Ibu Ny. Hj. Aisyah menegaskan kepada semua peserta, bahwa perempuan harus peduli politik, supaya tidak dipolitiki. Dan dilanjut dengan doa bersama, yang dipimpin oleh beliau, selaku pemateri. (Widya/Fitrianti)

No Comments Yet.

Leave a comment