Tembus Batas, Deretan Kisah Inspiratif Peserta Munaqosyah Bakalurius
Tembus Batas, Deretan Kisah Inspiratif Peserta Munaqosyah Bakalurius
Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari kembali menggelar sidang skripsi untuk Marhalah Ula pada hari Ahad (15 /02/ 2026) mulai pukul 08.00 WIB sampai 11.30 WIB bertempat di ruang bimbingan MAHA dan ini merupakan sidang skripsi gelombang ketiga yang diikuti oleh 12 mahasantri semester akhir atau semester 8.
Sidang ini dilaksanakan dalam 2 sesi, tertutup dan terbuka yang diuji oleh Mudir MAHA Dr. K.H. A. Roziqi, Lc, M.HI. dan Dr. Amrulloh, Lc. Adapun sidang terbuka akan dilaksanakan pada tanggal (16/02/2026) mendatang.
Sidang skripsi atau sidang Bakalurius ini merupakan sidang wajib bagi seluruh mahasantri semester akhir yang akan melaksanakan wisuda, dan merupakan nilai akhir seorang mahasantri dari semester satu sampai delapan.
Untuk mengikuti sidang skripsi ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh mahasantri, yaitu tidak ada absen yang mamnu’ (kurang dari SKS), tidak ada nilai yang merah melebihi dua mata kuliah, dan sudah bimbingan skripsi paling sedikitnya lima kali.
Mahasantri semester delapan asal Mojokerto, Muhammad Faris memberikan kesannya saat sedang diuji langsung oleh mudir MAHA, “Beliau dalam menguji itu killer diawal namun rahman rahim diakhir,” ungkapnya.
Ada sedikit tips dari Muhammad Faris untuk bisa mengikuti sidang, “Saya menyelesaikan skripsi ini terhitung dari Sempro (seminar proposal), sampai sidang hari ini, menghabiskan waktu kurang lebih selama 3 bulan 3 minggu. Setelah Sempro langsung dilanjut mengerjakan skripsi, sebelum ada kesibukan lainnya. Yang penting jaga absen kehadiran agar tidak mamnu’, jaga nilai agar tidak ada yang merah, karena sidangnya menggunakan bahasa arab, maka bisa melatih dahulu pengucapan bahasa arabnya,” pungkas Faris.
Mahasantriwati semester delapan, Asti Maharani asal Sulawesi mengambil sidang dengan judul studi Dirosatan Maudhuiyyah yang membahas Gentle Parenting dalam hadis Nabi yang dikaji secara tahlili an nafsi dari psikologi analisis teori Sigmund Freud.
Hal yang tidak terlupakan saat Asti ditanya penguji soal tokoh teori non Islam yang diangkat dalam judulnya yang dianggap kurang sinkron, “Apa alasan mengambil tokoh non Islam? Padahal saya mau mencocokkan pada hadis Nabi, rencana saya apa dan pertanyaannya seperti apa, sebenarnya ada jawabannya tapi karena ketidaksesuaian dengan jawaban akhirnya saya jadi bingung. Bena-benar kalau kita ketinggalan satu kosakata saja kita sudah bingung, jawabannya apa? Sudah bagian yang mana?” pungkas Asti.
Peserta lain juga menambahkan hal tak terlupakan, datang dari Putri Handayani, “Saya tiba-tiba susah mencari topik tapi berusaha mengerti dan menjawab pertanyaan yang kurang dimengerti oleh penguji dari luar via zoom,” ungkap Putri.
Asti menutup dengan harapan agar banyak yang tertarik mengikuti sidang terbuka, “semoga adik-adik kelas nanti lebih baik dan mendalam agar lebih bermanfaat penelitiannya. Lebih dipersiapkan lagi jauh-jauh hari,” pungkasnya.
Sama seperti peserta lain, Putri Handayani menambahkan, “Semoga selalu ada kader-kader dari mahasantri MAHA yang bisa lebih baik dari kami, lebih mendalam penelitiannya dan lebih fokus supaya penguji bisa lebih puas dengan kaderisasi MAHA,” tuturnya.
Editor: Qonita
Kontributor: Sobri dan Aizza

