Blog

UIN Gus Dur Tandatangani MoA di Tebuireng

Img 20240528 Wa0090
Berita

UIN Gus Dur Tandatangani MoA di Tebuireng

Senin, (27/05/2024) Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan lakukan perjanjian kerja sama (Memorandum of Agreement/MoA) dengan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA). Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Sam’ani, M. Ag. dan Mudir MAHA, KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I. menandatangani pernyataan kerja sama antara dua perguruan tinggi tersebut.

Tidak hanya melakukan penandatanganan MoA, dalam kesempatan ini UIN Gus Dur juga adakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) untuk mahasiswa/i mereka. Tercatat, acara yang bertempat di Gedung Yusuf Hasyim Lt. 3 Pondok Pesantren Tebuireng tersebut diikuti oleh 31 dosen dan tenaga pendidik, serta 295 mahasiswa/i UIN Gus Dur yang terdiri dari Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Prodi Ilmu Hadis (ILHA), Prodi Teknologi Pendidikan (TP), Prodi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), dan Prodi Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah.

Mudir MAHA, KH. Achmad Roziqi menyambut hangat kedatangan tamu dari Pekalongan tersebut. Beliau juga menyinggung beberapa kerja sama yang telah dimiliki MAHA dengan perguruan tinggi lainnya. “Alhamdulillah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sendiri telah mengantongi 4 perjanjian kerja sama (MoU/MoA) dengan perguruan tinggi di luar sana, yakni dari Fakultas Sastra Arab UGM Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam (STIUDA) Bangkalan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, dan yang terbaru dengan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Gus Dur,” ungkapnya.

Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Gus Dur, Prof. Sam’ani mengatakan, “Tujuan kami ke Tebuireng adalah ngangsuh kaweruh (mencari pengetahuan). Kemudian, kami datang ke Tebuireng agar para mahasiswa UIN Gus Dur tahu bahwa nama besar universitas mereka diambil dari nama salah satu tokoh yang berasal dari Tebuireng. Tokoh tersebut adalah KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa dengan Gus Dur.”

Selaku pemateri pada acara ini, Wakil Mudir Bidang Akademik MAHA, Dr. Mohamad Anang Firdaus, S.A., M.Pd.I. lebih banyak menyampaikan perihal sosok seorang Gus Dur. Beliau mengungkapkan bahwa Gus Dur pernah diminta menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dahulu. “Namun, Indonesia lebih memerlukan sosok Gus Dur. Sehingga estafet kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng saat itu dilanjutkan oleh adik beliau, KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah,” jelasnya.

Menurut Dr. Anang, Gus Dur merupakan simbol ketekunan dalam belajar. “Gus Dur pernah bilang, ‘Tirakat paling baik adalah membaca dan ibadah paling baik adalah menulis.’ Ini merupakan aliran Tasawuf yang diajarkan oleh Hadratussyaikh dahulu,” pungkas Wakil Mudir Bidang Akademik MAHA tersebut.

Setelah pemaparan materi selesai, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, MA. Hum.

Img 20240528 Wa0091
Img 20240528 Wa0089

Kontributor: Irma Khumairoh N.

Editor: Syifa’ Q.