Arkeologi Tasafuf: Diskusi Pra-Diskusi

3 November 2016, BEM Ma’had Aly Hasyim Asy’ari melalui Menteri Pendidikan mengadakan diskusi dengan tema Arkeologi Tasawuf. Tema ini merupakan pinjaman dari judul buku yang menjadi pokok bahasan pada diskusi kali ini. Arkeologi Tasawuf merupakan buku karya ustadz Abdul Kadir Riyadi yang pernah mengajar di Ma’had Aly kita tercinta ini. Diskusi ini merupakan diskusi persiapan bedah buku ini sendiri yang akan diselenggarakan dalam rangkaian haflah harlah Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang ke-10. Berikut beberapa rangkuman hasil diskusi tersebut:

Tasawuf sebagai ilmu, merupakan ilmu yang sensitif dalam pendefinisiannya. Sifatnya yang subjektif dan berorientasi pengalaman pribadi membuatnya sulit diidentifikasi sebagai suatu ilmu, tetapi tidak sebagai praktik spiritualitas.

Tasawuf sendiri dalam era ini mengalami kepudaran atau kehilangan jati diri terlepas dari banyaknya kajian dan diskusi ilmiah yang mencantumkan tasawuf sebagai ilmu yang menarik untuk diperlajari. Tetapi banyaknya kajian oleh akademisi ini bukannya memberi banyak solusi, bahkan memberikan lubang baru dalam tubuh tasawuf. Walau disadari atau tidak, kehidupan manusia di zaman modern ini mulai lelah dengan kehidupannya yang materialistik dan penuh ruang kosong sehingga dia membutuhkan tasawuf untuk mengisi ruang kosong tersebut.

Menjadi anomali ketika buku Arkeologi Tasawuf ini mengatakan tasawuf sedang hilang, tapi di sisi lain tertulis kajian tasawuf sedang ramai dan menjadi favorit akademisi kita di Indonesia. Sehingga apakah yang disebut hilang dalam buku ini? Ilmu atau pemahaman tasawuf itu sendiri, ataukah praktik tasawuf yang mengidentifikasikan cerminan perilaku sufi modern era ini.

Dalam sejarahnya pun kita tidak bisa mengelak, dimana ilmu ini banyak mendapatkan label tak mengenakkan, seperti ladang bid’ah, sesat, dan sebagainya. Sehingga menjadi sangat wajar ketika dalam satu sisi ilmu ini menjadi idola tapi di sisi lain menjadi tercela. Tren ini tidak lepas dari kemunculan tasawuf itu sendiri. Pada masa formalisasinya, tasawuf diasuh oleh seorang ahli kalam –ilmu yang menjadi sorotan pada zaman itu- al-Muhasibi. Bagaimana bisa ilmu yang berasaskan intuisi berpadu dengan background rasio. Sehingga dalam perjalanannya, ilmu ini mengalami banyak terjangan sampai akhirnya mendapatkan kejayaannya lewat seorang al-Ghazali yang menelurkan masterpiecenya dalam ilmu tasawuf, Ihya’ Ulum ad-Din dan lewat ide beliau inilah muncul beberapa tokoh ulung tasawuf dengan gerakan tarekatnya, seperti Hasan as-Syadzili dan Abdul Qadir al-Jilani.

Tentu tidak dibenarkan kritik tanpa saran ataupun masalah tanpa penyelesaian, sehingga patutlah kita memberi solusi selain adanya komentar. Tersebut beberapa solusi yang telah tercantum dalam diskusi kali ini:

Pertama, adanya sinkretisme tasawuf dengan budaya lokal seperti gerakan Walisongo pada umumnya yang memperpadukan gerakan tasawuf dengan ajaran lokal masyarakat Jawa. Sehingga tasawuf ini sendiri dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Kedua, tasawuf menjadi tameng jati diri Islam yang menghadapi radikalisasi ajarannya, mungkin gerakan 4 November menjadi contoh dalam hal ini. Banyak pengamat mengatakan inilah momentum awal perubahan Indonesia menjadi Suriah. Sehingga diperlukan adanya ajaran tasawuf yang mengajarkan kesetaraan, anti diskriminasi, menjauhi sifat sombong, dan tentunya menjauhi kekerasan atas nama Tuhan.

Ketiga, tentu manusia hidup tidak akan lepas dari tempat tinggalnya. Dalam hal ini nasionalisme menjadi ide positif bagi seorang sufi. Selain menjaga dan menyucikan hati, tetapi tetap berperan aktif dalam menjaga keutuhan negara tempat ia tinggal.

Keempat, ajakan bertasawuf bagi semua golongan -khususnya kaula muda- seharusnya dengan cara-cara persuasif. Dalam hal ini dibutuhkan beberapa hal yang harus diupgrade dalam diri tasawuf sehingga memikat hati banyak orang. Pertama, tampilan tasawuf yang lebih cool dan dinikmati anak muda. Karena kesan tasawuf selama ini hanya cocok untuk orang-orang lanjut usia, padahal proses dalam tasawuf membutuhkan waktu yang tidak cepat. Kedua, bahasa tasawuf yang pada umumnya berbahasa Arab menyulitkan para penikmatnya dalam memasuki tasawuf itu sendiri. Ketiga, kesan tasawuf yang hanya bisa dilakukan malaikat. Bagaimana tidak, banyak kitab tasawuf yang menceritakan cerita karomah para wali, atau para sufi yang berpenampilan seperti para gembel. Sehingga berkesan tasawuf sangat susah untuk diperdalami.

Terlepas dari persetujuan dan ketertarikan dari buku Ustadz Abdul Kadir Riyadi ini, terdapat beberapa ketidak setujuan para peserta diskusi. Seperti, adanya ketidak sinkronan antara tasawuf sebagai teori dan tarekat sebagai praktik yang disebutkan beliau. Menurut peserta diskusi, dalam bertarekat anggota tarekat tentunya tidak mengamalkan amaliyah ketarekatannya tanpa tasawuf. Para mursyid tarekat pasti mengajarkan terlebih dahulu kepada murid-muridnya teori-teori tasawuf. Kedua, kemunculan tasawuf yang menurut peserta diskusi sudah ada sejak zaman Nabi. Terbukti dengan adanya amaliyah-amaliyah para sahabat yang sufi.

Ketidak setujuan para peserta diskusi ini menjadi bukti akan kesiapan para peserta dalam mengikuti diskusi pada kali ini. Dengan itu diharapkan ada spirit yang berkelanjutan untuk diskusi-diskusi yang akan datang. Matangnya pendamping serta antusiasnya peserta dengan dibuktikan jumlah peserta yang lebih banyak dari beberapa diskusi sebelumnya menjadi indikator kuat akan keberlangsungan wacana keilmuan mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Semoga kita tidak terlena dengan hasil diskusi kali ini dan terus berproses demi tercapainya cita-cita luhur ilmiyah dan amaliyah seperti ulama salaf as-soleh. Semoga!


Ditulis oleh Ikmaluddin Fikri, mahasantri angkatan 2014.

No Comments Yet.

Leave a comment