SEJARAH dan PERKEMBANGAN FIKIH HADITS (BAGIAN 3)

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN FIKIH HADIS

Fikih Hadis setelah Dibukukan

‘Ashr at-tadwin atau masa kodifikasi bermula saat kekhalifahan Islam ada di tangan Umar bin Abdul Aziz, yakni tahun 100 hingga 111 Hijriah. Lalu pada masa kekhalifahan Abu Ja’far Al-Manshur penulisan lebih gencar dilakukan. Semua ditulis dalam buku, termasuk hadis, ijtihad sahabat, dan ijtihad tabi’in. Bahkan, hadis yang awalnya tidak diperkenankan ditulis dalam satu buku dengan qaul sahabat dan tabi’in, di masa ini ditulis bersama pemahaman para sahabat dan tabiin. Sehingga mulai dari masa inilah, aktifitas ilmiah para ulama sudah dapat dilacak dari karya mereka, termasuk metode fiqh hadis yang mereka terapkan. Lebih dari itu, beberapa ulama telah memaparkan dan mengidentifikasi kitab-kitab apa saja yang masuk dalam kategori fiqh al-hadits.

Karya-Karya yang Diakui Ulama sebagai Kitab Fikih Hadis

  1. Al-Muwaththa’ karya Imam Malik ibn Anas (w. 179 H)

Ada beberapa metode fiqh al-hadits yang dijelaskan dalam Al-Muwaththa’. Pertama, metode tabwib al-fiqhi. Dalam metode ini, Imam Malik membuat tema-tema khusus yang merupakan pokok ajaran dalam Islam. Dalam setiap tema tersebut terkandung dalil-dalil sahih sebagai pijakannya. Kedua, penyertaan qaul sahabat dan tabi’in untuk memperkuat penjelasan hadis. Ketiga, mengungkap pendapat Imam Malik. Dalam konteks ini, pendapat Imam Malik berkedudukan sebagai ijtihad. Hal ini menjelaskan pada kita tentang tahapan-tahapan dalam mengambil kesimpulan hukum dari suatu hadis setelah mendapat penjelasan tambahan dari qaul sahabat atau tabi’in. Keempat, memilih hadis dan atsar dyang sahih. Artinya, hadis dan atsar yang layak diteliti, diambil hikmah dan hukumnya adalah yang kualitasnya sahih, minimal hasan. Sedangkan hadis dan atsar yang daif maka tidak layak untuk dijadikan objek fiqh al-hadits.

  1. Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’I (w. 204 H)

Hampir semua komponen metodologi fiqh al-hadits telah dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’I dalam kitabnya ini, hingga tingkat cara kerjanya. Di antara beberapa komponen inti yang dikenalkan secara metodologis adalah pertama, metode mengupas ayat Al-Qur’an. Kedua, metode pemaparan praktik atau tradisi sahabat. Ketiga, menjelaskan urgensi qaul tabi’in. Keempat, urgensi ijma’ ulama. Kelima, metode mengulas bahasa. Keenam, qaul ulama. Pada salah satu bab, Imam Asy-Syafi’I juga menjelaskan tentang mukhalif al-hadits. Bahkan, dasar dan pijakan utama fiqh al-hadits mengenai kehujahan khabar al-wahid pun telah dikupas oleh Imam Asy-Syafi’i. Sedangkan, fiqh al-hadits pada dasarnya adalah membedah dan menggali hukum dan hikmah dari hadis yakni satu persatu, yang itu mayoritas adalah khabar al-wahid.

  1. Ma’alim As-Sunan karya Abu Sulaiman Al-Khaththabi (w. 388 H)

Menurut penjelasan pengarang, kitab ini merupakan hasil dari upaya menggabungkan antara fikih dan hadis. Di dalamnya termuat, pertama, tafsir hadis beserta makna-maknanya. Kedua, pendapat para ulama beserta ikhtilaf mereka. Ketiga, analisa bahasa. Inilah komponen metodologi fiqh al-hadits yang diterapkan Abu Sulaiman Al-Khaththabi di dalam kitabnya. Dibanding dua kitab sebelumnya, metodologi fiqh al-hadits dalam kitab ini tampak lebih sederhana. Hal itu wajar karena di masa itu sudah lahir madzhab empat. Sehingga penafsiran hadis cukup dengan mengutip pendapat imam madzhab beserta imam-imam lainnya dengan terlebih dahulu mengutarakan pendapat pribadinya. Kitab ini merupakan kitab pertama yang menerapkan metodologi fiqh al-hadits ke dalam pensyarahan kitab induk hadis.

  1. At-Tamhid Lima fi Al-Muwaththa’ min Al-Ma’ani wa Al-Masanid karya Muhammad ibn ‘Abdil Barr An-Namri (w. 463 H)

Ibnu ‘Abdil Barr telah menjelaskan sendiri metode yang digunakan dalam kitab ini. Beberapa metodenya merupakan bagian dari metodologi fiqh al-hadits yang bisa diterapkan. Seperti menghadirkan riwayat lain yang dari sisi sanadnya lebih kuat daripada sanad yang digunakan oleh Imam Malik di Al-Muwaththa’ sebagai kitab yang disyarahi. Hal ini karena memang misi Muhammad ibn ‘Abdil Barr adalah menguatkan dalil-dalil dan hujah daripada Imam Malik. Oleh sebab itu, tidak seperti kitab syarah lain yang hanya memuat hadis dari kitab yang disyarahi, At-Tamhid ini menyertakan riwayat lain selain yang ada di kitab yang disyarahi. Metodologi lain yang digunakan adalah analaisa bahasa, qaul ulama, syawahid, dan analisa perawi terkait nasab, usia, dan wilayah tinggalnya.

  1. Subul As-Salam karya Muhammad ibn Ismail Ash-Shan’ani (w. 1182 H)

Dalam kitab ini, Ash-Shan’ani menyebutkan hadis sebagaimana urutannya dalam kitab Bulugh Al-Maram. Kemudian memberikan catatan ringkas tentang: 1) Paparan biografi sahabat secara singkat, 2) Penjelasan matan secara terperinci dari sudut pandang ilmu hadis, 3) Penjelasan kalimat hadis yang gharib, 4) Sesekali menjelaskan sintaksis kata, 5) Mengupas berbagai kemusykilan yang ada di dalam hadis, dan 6) Memaparkan berbagai pendapat ulama kemudian memandang qaul yang paling rajih dan membahas hujah yang berseberangan. Artinya, dalam metodologi fiqh al-hadits, beliau sangat disiplin mematuhi kode etik penerapan komponen yang baku. Hal itu terbukti sangat membantu pembaca memahami kandungan hadis secara utuh.

  1. Nail Al-Author karya Muhammad Asy-Syaukani (w. 1250 H)

Kitab ini merupakan syarah kitab Muntaqa al-Akbar karya Al-Majdu Ibnu Timiyah yang berisi hadis-hadis sahih yang menjadi dalil masalah-masalah hukum. Komponen metodologi fiqh al-hadits yang digunakan diantaranya adalah takhrij, jarh wa ta’dil, mutabi’at dan syawahid, mengompromikan hadis-hadis yang secara lahiriah bertentangan, istinbath hukum, memaparkan qaul ulama dan madzhab, dan menjelaskan kata-kata asing dalam redaksi.

Kitab Lain yang Mempunyai Komponen Metodologi Fikih Hadis

Komponen yang ada dalam kitab yang diakui ulama sebagai kitab fiqh al-hadits di atas, selanjutnya dapat dijadikan standarisasi atau barometer kitab fiqh al-hadits. Standar ini kemudian dapat dijadikan tolak ukur untuk mengategorikan kitab-kitab lain sebagai kitab fiqh al-hadits atau bukan. Berikut ini di antara beberapa kitab yang dapat dikategorikan sebagai kitab fiqh al-hadits.

  1. Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Bukhari (w. 256 H)
  2. As-Sunan Al-Kabir karya Abu Bakar Al-Baihaqi (w. 458 H)
  3. Al-Muntaqa karya Ibnu Khalaf Al-Baji (w. 494 H)
  4. Al-Mu’allim bi Fawaid Al-Muslim karya Muhammad ibn Ali Al-Mazi (w. 536 H)
  5. Ikmal Al-Mu’allim bi Fawaid Al-Muslim karya Al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H)

Kitab yang Mempelopori Lahirnya Corak dalam Fikih Hadis

Pada abad ke-6 Hijriah, fiqh al-hadits menemukan coraknya melalui pensyarahan terhadap beberapa kitab kumpulan hadis hukum. Abad ini menjadi saksi lahirnya fase baru dalam fiqh al-hadits, yakni fase di mana fiqh al-hadits lebih fokus pada corak kemadzhaban. Pada abad ini fiqh al-hadits menjadi sarana yang efektif bagi fukaha untuk menyebarkan ideologi dan madzhab tertentu. Pengumpulan hadis-hadis hukum yang sahih pada satu kitab kitab tersendiri sangat membantu fukaha. Adapun di antara kitab kumpulan hadis hukum yang merupakan pelopor lahirnya corak fikih dalam fiqh al-hadits adalah sebagai berikut.

  1. ‘Umdah Al-Ahkam min Kalam Khair Al-Anam karya Taqiyuddin Abdul Ghani Al-Maqdisi (w. 600 H)
  2. Al-Muharrar fi Ahadits Al-Ahkam karya Ibnu ‘Abdul Hadi (w. 744 H)
  3. Bulugh Al-Maram min Adillah Al-Ahkam karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalany (w. 852 H)

Kitab-kitab di atas beserta berbagai syarahnya otomatis menjadi karya yang mendorong dan mewarnai perkembangan fiqh al-hadits di abad ke-8 dan ke-9 Hijriah. Dengan demikian perkembangan fiqh al-hadits terus berkesinambungan dari abad ke abad. Bahkan semakin ke belakang, pasca kutub as-sittah, setelah muncul kitab-kitab yang secara khusus menghimpun hadis-hadis hukum, perkembangan fiqh al-hadits sangat pesat terutama terkait dengan komponen metodologi dan coraknya.

KOMPONEN METODOLOGI FIKIH HADIS

Metodologi fiqh al-hadits di masa Nabi SAW bersifat dialogis dan tanya jawab. Lalu, di masa sahabat, diterapkan dalam bentuk ijtihad dan takwil. Sedangkan di masa tabiin, diterapkan dalam bentuk ijtihad, takwil dengan menyertakan qaul sahabat. Adapun di masa tadwin hingga sekarang, fiqh al-hadits diterapkan para ulama dalam bentuk rangkaian komponen metodologi yakni Takhrij, Analisis Bahasa, Ayat Al-Quran, Biografi Perawi, Asbab Al-Wurud, ‘Am dan Khas, Mutabi’at dan Syawahid, Mukhtalif Al-Hadis, Qaul Ulama, Telaah Kasus, dan Kesimpulan Hukum.

Tabel Sebaran Komponen Metodologi Fikih Hadis

No Metodologi Abad Hijriah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Ijtihad Nabi
2 Takrir Nabi
3 Ijtihad Sahabat
4 Takwil Sahabat
5 Qaul Sahabat
6 Ijtihad Tabiin
7 Takwil Tabiin
8 Tabwib al-fiqhi
9 ‘Am dan khash
10 Takhrij
11 Qaul Sahabat dan Tabiin
12 Kesimpulan Hukum
13 Ayat Al-Qur’an
14 Analisis Bahasa
15 Qaul Ulama
16 Mukhtalif al-hadis
17 Ijtihad pribadi
18 Mutabi’at dan syawahid
19 Biografi perawi
20 Asbab al-wurud
21 Telaah kasus

 

 

TABEL GENEALOGI FIKIH HADIS

No. Nama Kitab Pengarang Abad
1 Al-Muwaththa’ Malik ibn Anas 2
2 Al-Umm Asy-Syafi’i 2
3 Ar-Risalah Asy-Syafi’i 3
4 Shahih Al-Bukhari Imam Al-Bukhari 4
5 Ma’alim As-Sunan Abu Sulaiman Al-Khaththabi 5
6 As-Sunan Al-Kabir Abu Bakar Al-Baihaqi 5
7 At-Tamhid Lima fi Al-Muwaththa’ min Al-Ma’ani wa Al-Masanid Muhammad ibn ‘Abdil Barr An-Namri 5
8 Al-Muntaqa Ibnu Khalaf Al-Baji 5
9 Al-Mu’allim bi Fawaid Al-Muslim Muhammad ibn Ali Al-Mazi 5
10 Ikmal Al-Mu’allim bi Fawaid Al-Muslim Al-Qadhi ‘Iyadh 5
11 Al-Ahkam Ash-Shughra, Al-Ahkam Al-Wustha, dan Al-Ahkam Al-Kubra Ibnu Al-Kharrath Al-Isybili 6
12 ‘Umdah Al-Ahkam min Kalam Khairi Al-Anam Taqiyyuddin Abdul Ghani Al-Maqdisi 6
13 As-Sunan wa Al-Ahkam ‘an Al-Mushtafa ‘alaihi Afdhalu Shalatu wa As-Salam Dhiya’uddin Al-Maqdisi 6
14 Al-Ilman fi Bayani Adillati Al-Ahkam Al-‘Izz ibn ‘Abdi As-Salam 7
15 Al-Ilman fi Ahadis Al-Ahkam Ibnu Daqiq Al-‘Id 7
16 Fath Al-Ghaffar Al-Jami’ li Ahkam Sunnati Nabiyyina Al-Mukhtar Al-Hasan ibn Ahmad Ar-Ruba’i 7
17 Ihkam Al-Ahkam Ibnu Al-‘Athar 7
18 Al-‘Uddah Syarh Al-‘Umdah Ibnu ‘Asakir 7
19 Riyadh Al-Afham Al-Fakihani 7
20 ‘Uddah Al-Afham Ali ibn Muhammad Al-Khazin 7
21 Al-Muharrar fi Ahadis Al-Ahkam Ibnu ‘Abdul Hadi 7
22 Syarh Al-‘Umdah Muhammad Ad-Dakkali 8
23 Al-‘Uddan fi I’rab Al-‘Umdah Ibnu Farihun At-Tunisi 8
24 Taisir Al-Maram Ahmad ibn Marzuq At-Tilmasini 8
25 An-Nukat ‘ala Al-‘Umdah Muhammad ibn Bahadur Az-Zarkasyi 8
26 Ghayatu Al-Ihkam fi Ahadis Al-Ahkam Muhibuddin Abu Ja’far 8
27 Al-I’lam bi Fawaid ‘Umdah Al-Ahkam Ibnu Al-Mulqin 8
28 Syarh ‘ala Syarh Al-‘Umdah Ali Al-Faskuri 8
29 ‘Iddah Al-Ahkam Fairuz Abadi 9
30 Syarh ‘Umdah Al-Ahkam Al-‘Amiri Al-Ghazzi 9
31 Syarh ‘Umdah Al-Ahkam Ismail Al-Barmawi 9
32 Ghayatul Ilham Muhammad ibn ‘Ammar 9
33 An-Nukat ‘ala An-Nukat Al-Hafizh ibn Hajar Al-Asqalani 9
34 Fath Al-Bari Al-Hafizh ibn Hajar Al-Asqalani 9
35 ‘Umdah Al-Qari Badruddin Ahmad Al-‘Aini 9
36 Bulugh Al-Maram min Ahadis Al-Ahkam Ibnu Hajar Al-‘Asqalany 9
37 Tmam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam Ibnu Ahmad Al-Ghazzi 9
38 Irsyad As-Sarifi Syarh Al-Bukhari Ahmad ibn Muhammad Al-Qasthalani 9
39 Syarh Shahih Muslim Al-Qari Al-Harawi 10
40 Kifayah Al-Hajah fi Syarh ibn Majah Abu Muhammad Salim Al-Bishri 11
41 Al-‘Uddah Hasyiyah ‘ala Ihkam Al-Ahkam Amir An-Nu’ani 12
42 Subul As-Salam Muhammad ibn Ismail Ash-Shan’ani 12
43 Nail Al-Authar Muhammad Asy-Syaukani 13
44 Mawarid Al-Ifham Ibnu Badran Ad-Dimasyqi 13
45 Al-Ilman bi Syarh ‘Umdah Al-Ahkam Ismail Al-Anshari 14
46 Tanbih Uli Al-Afham Muhammad Al-‘Utsaimin 14
47 Taisir Al-‘Allam Abdullah Al-Bassam 14
48 Ibanah Al-Ahkam Sayyid Alwi Al-Maliki dan Hasan Sulaiman An-Nuri 14

 

 

 

No Comments Yet.

Leave a comment