KITAB KUNING

Sebuah perkuliahan pasti mewajibkan pelajar di dalamnya membaca buku rujukan kuliah, tidak terkecuali Ma'had Aly Hasyim Asy'ari. Namun ketika berbicara mengenai keilmuan Islam, akan terdapat dua pilihan buku rujukan, yaitu buku berbahasa Arab (kitab kuning) dan buku berbahasa Indonesia (biasanya terjemahan). Disodori dua pilihan seperti itu, Ma'had Aly memilih buku berbahasa Arab sebagai buku rujukan kuliah di dalamnya.

Memang benar bahwa rujukan utama keilmuan Islam adalah Al-Qur'an dan hadis. Namun teks-teks dalam Al-Qur'an dan hadis tidak mudah diinterpretasi layaknya karya tulis pada umumnya. Dibutuhkan perantara dalam memahami dua rujukan tersebut dan perantara tersebut tidak lain adalah syarah-syarah hasil olah pikir ulama-ulama Islam yang disebut kitab kuning.

Sebagai lembaga yang didirikan dengan tujuan mencetak kader ulama, Ma'had Aly Hasyim Asy'ari terus melestarikan kitab kuning sebagai rujukan keilmuan mahasantri. Melalui seleksi baca kitab, mahasantri yang masuk diharuskan mampu membaca kitab kuning dan kemudian diajak bersama memahami kitab kuning para ulama terdahulu demi tercapainya pemahaman keilmuan Islam yang mendalam, terutama ilmu hadis.