“Kita punya obsesi, nanti 5 tahun ke depan Ma’had ‘Aly menjadi destinasi pendidikan dunia. Dan ini insya Allah real. Cita-cita yang memang realistis,” tegas Dr. Zayadi. Beliau bercerita, seminggu kemarin banyak sekali mufti dari berbagai negara yang tujuan awalnya adalah ziarah ke almarhum KH. Hasyim Muzadi, tetapi selepas itu mereka mampir ke kantor Direktorat Jendral Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.

Ada mufti dari Darul Fatwa Sidney, Damaskus, Jamiyah Alawiyah Lebanon, Tripoli, Kelantan dan dari beberapa negera lain, memenuhi kantor Dr. Zayadi. “Di kesempatan itu karena kebetulan di forum itu juga kita sedang ada diskusi dengan kawan-kawan muadalah. Maka kemudian kita cerita banyak tentang muadalah dan Ma’had ‘Aly yang baru saja negara hadir melegalisasi beberapa entitas kelembagaan yang baru itu,” tutur beliau.

Dari pembicaraan bersama para mufti dari berbagai negara, Dr. Zayadi mengungkapkan bahwa mereka mencermati ternyata hanya di Indonesia, tradisi pesantren yang begitu agung itu bukan hanya semata mata diakui oleh umat Islam saja.  Negara juga negara memastikan dirinya hadir memfasilitasi, melegalisasi, dan tentu saja bertanggung jawab atas masa depan kelembagaan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan ini dari mulai jenjang tingkat Ula, Wustho, Ulya hingga Ma’had ‘Aly.

“Ini ada jaminannya, jaminannya adalah PMA (Peratuan Menteri Agama) dan kebijakan negara yang lainnya,” kata beliau sambil menggebu-gebu

“Ketika kemudian kita berbicara Ma’had Aly, kita bangga karena Ma’had ‘Aly adalah lembaga pendidikan paling autentik yang dimiliki bangsa ini. Berbeda dengan sekolah, bangsa ini tidak kenal sekolah awalnya, begitu pula madrasah. Itu sistem terbaru,” tambah Dr. Zayadi.

“Oleh karena itu ketika kita misalnya melihat catatan Cak Nur, dalam “Bilik-Bilik Pesantren”. Itu secara jujur diakui jika bangsa ini tidak pernah dijajah, maka bangsa ini tidak akan pernah kenal UGM, tidak akan kenal ITB, tidak akan kenal universitas, tetapi yang akan dikenali bangsa ini adalah Ma’had ‘Aly,” ungkap Dr. Zayadi.

Bagi beliau, alasan mengapa Ma’had ‘Aly (pesantren) merupakan lembaga paling autentik Indonesia adalah datangnya penjajahan itu sekaligus membawa sistem yang mereka anut, yaitu sistem sekolah, sistem universitas, dan sistem Institut, sedangkan yang paling asli milik Indonesia adalah pesantren.

Beliau mengutip pernyataan Kiai Masdar Farid Mas’udi yang membagi tiga kategori kiai. Pertama kiai mursyid, yakni kiai kampung yang dalam kesehariannya tidak ada jarak dengan masyarakat, memberikan pendampingan-pendampingan dan waktunya kepada masyarakat sekitar untuk konsultasi. Kiai ini dibutuhkan dalam jumlah yang besar karena kenyataannya umat Islam Indonesia berjumlah lebih dari 160 juta.

Kedua kiai muballigh, kiai komunikator, yakni kiai yang bisa mengkomunikasikan pesan-pesan keagamaan dalam kontek sosial kemasyarakatan. Sehingga kemudian pencitraan umat bisa dilakukan dan dikembangkan oleh kiai muballigh. “Tidak semua harus menjadi muballig,” ungkap beliau.

Ketiga adalah kiai yang paling sedikit, yakni kiai mutafaqqih, kiai pemikir. Kiai-kiai tipe ini lah yang diyakini Dr. Zayadi akan lahir dari Ma’had ‘Aly. “Itu akan menjadi kaum elite. Dari sisi kapasitas akademik yang akan dihasilkan tamatan Ma’had ‘Aly. Mereka memiliki kompetensi kemursyidan, kemubalighan dan yang terakhir mempunyai kompetensi untuk bisa mewarnai ke mana arah bangsa ini dikendalikan,” pungkas Dr. Zayadi.

Dr. H. Ahmad Zayadi, Kepala Subdirektorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had ‘Aly, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI